Prompting
Lesson 1 dari 4 · Pemula · 25 sampai 35 menit

Anatomi prompt yang bagus

Prompt yang bagus mirip brief kerja: jelas tugasnya, konteksnya cukup, formatnya terlihat, dan kriterianya bisa dicek. Materi ini membedah anatominya.

Setelah selesai, kamu bisaLesson 1 dari 4
  • Menulis task dan konteks dengan jelas
  • Menentukan format output
  • Menambahkan constraint dan evaluation criteria

Sebelum mulai

  • Pernah menulis prompt sederhana.
  • Siapkan satu prompt yang hasilnya masih terlalu umum.
Target belajar: Setelah selesai, kamu bisa memperbaiki prompt mentah menjadi brief yang bisa dipakai ulang.

Konsep utama

01Task dan context

Task menjelaskan pekerjaan yang diminta. Context memberi latar, tujuan, pembaca, data, dan situasi yang membuat output relevan.

Kenapa penting: Tanpa konteks, model akan menebak kebutuhanmu dari pola umum.

Contoh: Daripada 'buat email', tulis penerima, tujuan, relasi, deadline, dan nada yang diinginkan.

Yang sering keliru: Memberi banyak informasi tetapi tidak menjelaskan tugas utama.

02Format output

Format output menjelaskan bentuk jawaban yang kamu butuhkan, seperti tabel, checklist, JSON, outline, atau memo satu halaman.

Kenapa penting: Format yang jelas membuat hasil lebih mudah dipakai, dibanding jawaban panjang yang harus dirapikan ulang.

Contoh: Minta tabel berisi klaim, sumber, status verifikasi, dan catatan risiko.

Yang sering keliru: Tidak memberi contoh struktur saat butuh output yang konsisten.

03Evaluation criteria

Evaluation criteria adalah standar untuk menilai apakah output sudah bagus, lengkap, dan aman dipakai.

Kenapa penting: Kriteria membuat proses revisi lebih objektif.

Contoh: Untuk copy iklan, kriteria bisa berupa jelas, tidak overclaim, ada CTA, dan cocok untuk audience.

Yang sering keliru: Merevisi output hanya berdasarkan perasaan.

Cara kerjanya

Prompt yang bagus bukan mantra. Prompt yang bagus adalah brief kerja. Kalau brief-nya jelas, output biasanya lebih relevan. Struktur dasar yang bisa dipakai: task, konteks, tujuan, audience, format output, batasan, contoh, dan kriteria kualitas.

Task menjelaskan apa yang harus dilakukan. Context menjelaskan situasi. Goal menjelaskan hasil akhir yang diinginkan. Audience menentukan bahasa dan kedalaman. Format membuat output mudah dipakai. Constraints membatasi hal yang tidak diinginkan. Examples memberi pola. Evaluation criteria memberi standar kualitas.

Contoh nyata

Prompt lemah: “buatkan konten AI”. Prompt kuat: “Buat 10 ide post X tentang AI untuk creator Indonesia yang sudah pernah pakai ChatGPT tapi belum punya workflow. Gaya: casual, pendek, no corporate tone. Format tabel: hook, angle, isi pendek, CTA. Hindari klaim tanpa sumber.”

Coba sendiri

  1. 1

    Ambil satu prompt pendek.

  2. 2

    Ubah menjadi prompt terstruktur memakai 7 komponen.

  3. 3

    Jalankan dua prompt dan bandingkan.

Prompt yang bisa dipakai

Bantu ubah prompt mentah ini menjadi prompt profesional. Prompt mentah: [prompt]. Gunakan struktur: task, context, goal, audience, output format, constraints, examples, evaluation criteria. Buat juga versi pendek dan versi detail.

Cek pemahaman

Jawab dengan bahasa sendiri. Kalau masih muter-muter, baca ulang bagian yang paling nyangkut.

  1. 1

    Sebutkan 7 komponen prompt yang bagus.

  2. 2

    Apa beda context dan goal?

  3. 3

    Kenapa format output penting?

Tugas

Buat 10 prompt template untuk 10 pekerjaan harianmu dengan struktur lengkap.

Lanjut ke materi berikutnya

Setelah paham anatomi prompt, lanjut ke few-shot prompting untuk memakai contoh sebagai pengarah pola output.
Lanjut: Few-shot prompting dan contoh output