Prompting
Lesson 2 dari 4 · Pemula · 25 sampai 35 menit

Few-shot prompting dan contoh output

Few-shot prompting memakai contoh input dan output agar model mengikuti pola yang kamu mau. Teknik ini berguna saat format, tone, atau klasifikasi harus konsisten.

Setelah selesai, kamu bisaLesson 2 dari 4
  • Membedakan zero-shot dan few-shot
  • Memilih contoh output yang representatif
  • Menguji konsistensi pola

Sebelum mulai

  • Punya satu format output yang ingin dibuat konsisten.
  • Paham bagian dasar prompt: task, context, dan format.
Target belajar: Setelah selesai, kamu bisa menyiapkan contoh yang cukup baik untuk mengarahkan output model.

Konsep utama

01Zero-shot dan few-shot

Zero-shot meminta model bekerja tanpa contoh. Few-shot memberi beberapa contoh agar model menangkap pola output.

Kenapa penting: Untuk tugas sederhana zero-shot cukup, tetapi format berulang biasanya lebih stabil dengan contoh.

Contoh: Klasifikasi komentar pelanggan lebih konsisten jika diberi contoh kategori dan alasan label.

Yang sering keliru: Memberi terlalu banyak contoh yang saling bertentangan.

02Contoh output

Contoh output harus menunjukkan struktur, panjang, gaya, dan level detail yang kamu harapkan.

Kenapa penting: Model mengikuti pola yang terlihat, termasuk kelemahan contoh yang kamu berikan.

Contoh: Jika contoh ringkasan selalu punya 'masalah, bukti, next step', output baru cenderung mengikuti format itu.

Yang sering keliru: Memberi contoh asal-asalan lalu berharap model memperbaiki sendiri.

03Pattern consistency

Konsistensi pola berarti output tetap rapi saat input berubah, bukan hanya bagus untuk satu contoh.

Kenapa penting: Prompt yang dipakai workflow harus tahan terhadap variasi data nyata.

Contoh: Uji prompt dengan komentar pendek, panjang, ambigu, dan marah sebelum dipakai di support workflow.

Yang sering keliru: Menguji prompt hanya dengan satu input yang terlalu mudah.

Cara kerjanya

Zero-shot berarti memberi instruksi tanpa contoh. One-shot memberi satu contoh. Few-shot memberi beberapa contoh. Untuk task yang membutuhkan gaya, format, atau standar output spesifik, contoh sering lebih efektif daripada instruksi panjang.

Contoh membantu model melihat pola: panjang kalimat, gaya bahasa, struktur, depth, format, dan hal yang harus dihindari. Tapi contoh harus dipakai sebagai pattern, bukan untuk menyalin mentah-mentah. Untuk konten dan copywriting, jelaskan bahwa AI harus belajar struktur dan rasa, bukan menjiplak.

Few-shot sangat berguna untuk: writing style, customer support response, klasifikasi data, format laporan, email outreach, scoring lead, dan rewrite konten.

Contoh nyata

Berikan 3 contoh caption yang sesuai brand. Lalu minta AI membuat 10 caption baru dengan topik berbeda, sambil menjaga panjang, tone, dan struktur yang mirip.

Coba sendiri

  1. 1

    Kumpulkan 3 contoh output bagus.

  2. 2

    Tulis apa pola yang sama dari ketiganya.

  3. 3

    Buat prompt few-shot dan minta output baru.

Prompt yang bisa dipakai

Pelajari contoh berikut sebagai referensi style dan struktur, bukan untuk disalin. Contoh 1: [teks] Contoh 2: [teks] Contoh 3: [teks] Sekarang buat output baru untuk topik: [topik]. Jaga: [aturan style]. Hindari: [larangan].

Cek pemahaman

Jawab dengan bahasa sendiri. Kalau masih muter-muter, baca ulang bagian yang paling nyangkut.

  1. 1

    Apa itu few-shot prompting?

  2. 2

    Kapan contoh lebih berguna daripada instruksi panjang?

  3. 3

    Apa risiko memakai contoh tanpa aturan?

Tugas

Buat style prompt untuk satu platform: X, LinkedIn, blog, newsletter, atau WhatsApp.

Lanjut ke materi berikutnya

Setelah contoh bisa mengarahkan output, lanjut ke context engineering untuk mengatur dokumen, tools, memory, dan state.
Lanjut: Context engineering: naik level dari prompt engineering