Riset, Content, dan Marketing
Lesson 2 dari 3 · Menengah · 35 sampai 45 menit

AI untuk marketing: persona, copy, funnel, dan campaign

AI untuk marketing bekerja baik saat data pelanggan, persona, pesan, channel, dan metriknya jelas. Materi ini membantu kamu membuat campaign yang tidak hanya terdengar bagus.

Setelah selesai, kamu bisaLesson 2 dari 3
  • Membuat persona berbasis bukti
  • Menulis copy tanpa overclaim
  • Menentukan metrik campaign

Sebelum mulai

  • Punya produk, jasa, atau contoh bisnis yang ingin dipasarkan.
  • Siapkan satu masalah pelanggan yang nyata.
Target belajar: Setelah selesai, kamu bisa membuat campaign brief dengan persona, pesan, funnel, dan checklist klaim.

Konsep utama

01Persona berbasis bukti

Persona sebaiknya dibuat dari review, interview, CRM, komentar, atau data nyata, bukan stereotip.

Kenapa penting: Persona yang kabur menghasilkan pesan yang tidak nyambung dengan masalah pembeli.

Contoh: Review pelanggan bisa menunjukkan keberatan harga, masalah pengiriman, atau alasan repeat order.

Yang sering keliru: Membuat persona dari imajinasi internal tim saja.

02Copy dan klaim

Copy marketing harus menjelaskan manfaat dengan bahasa yang jelas tanpa membuat klaim yang tidak bisa dibuktikan.

Kenapa penting: Overclaim bisa merusak kepercayaan dan membuat campaign berisiko.

Contoh: Daripada 'pasti naik omzet', tulis masalah yang diselesaikan dan bukti penggunaan.

Yang sering keliru: Membiarkan AI menambah janji yang tidak pernah diuji.

03Funnel dan campaign

Funnel membantu melihat tahap audience dari sadar masalah, tertarik, mempertimbangkan, sampai membeli.

Kenapa penting: Setiap tahap butuh pesan, CTA, dan metrik yang berbeda.

Contoh: Post edukasi cocok untuk awareness, sementara landing page perlu bukti, offer, dan next step.

Yang sering keliru: Memakai satu pesan untuk semua tahap.

Cara kerjanya

Marketing dengan AI dimulai dari pemahaman audience, bukan dari copy. AI bisa membantu membuat persona, pain point map, value proposition, campaign angle, ad copy, email sequence, dan landing page structure. Output bagus jika input bisnisnya jelas.

Prompt marketing harus berisi produk, target audience, masalah yang dipecahkan, bukti, tone, platform, dan action yang diinginkan. Tanpa itu, AI akan membuat copy yang terdengar seperti template iklan murahan.

AI juga bisa dipakai untuk membandingkan positioning kompetitor, membuat FAQ objection, dan membuat variasi copy untuk A/B test.

Contoh nyata

Untuk produk course AI, AI bisa membuat persona: mahasiswa, freelancer, creator, UMKM, developer pemula. Lalu untuk tiap persona, dibuat pain point, promise, lesson yang paling relevan, dan CTA.

Coba sendiri

  1. 1

    Pilih satu produk.

  2. 2

    Buat persona 3 tipe.

  3. 3

    Buat pain point dan objection.

  4. 4

    Buat copy landing page untuk masing-masing persona.

Prompt yang bisa dipakai

Saya punya produk: [produk]. Target: [target]. Harga/offer: [offer]. Buat marketing brief berisi persona, pain point, promise, objection, angle campaign, landing page structure, dan 10 variasi headline.

Cek pemahaman

Jawab dengan bahasa sendiri. Kalau masih muter-muter, baca ulang bagian yang paling nyangkut.

  1. 1

    Kenapa marketing prompt butuh data produk?

  2. 2

    Apa beda pain point dan objection?

  3. 3

    Apa fungsi A/B copy variation?

Tugas

Buat campaign brief lengkap untuk menjual mini course AI ke satu persona spesifik.

Lanjut ke materi berikutnya

Setelah marketing umum, lanjut ke Web3 research dan content untuk melihat penggunaan AI pada domain yang butuh caveat lebih ketat.
Lanjut: AI untuk Web3 research dan content