Prompting
Lesson 4 dari 4 · Pemula · 25 sampai 35 menit

Prompt evaluation dan debugging

Prompt perlu diuji seperti bagian dari sistem. Materi ini mengajarkan cara membuat rubric, membandingkan output, dan memperbaiki prompt dengan loop yang jelas.

Setelah selesai, kamu bisaLesson 4 dari 4
  • Membuat rubric output
  • Menguji prompt dengan beberapa input
  • Mencatat versi prompt dan hasilnya

Sebelum mulai

  • Punya prompt yang ingin dipakai lebih dari sekali.
  • Siapkan 3 contoh input dengan tingkat kesulitan berbeda.
Target belajar: Setelah selesai, kamu bisa mengevaluasi prompt dengan rubric sederhana dan memperbaikinya berdasarkan bukti.

Konsep utama

01Rubric evaluasi

Rubric adalah daftar kriteria untuk menilai output, seperti akurasi, kelengkapan, tone, format, dan risiko.

Kenapa penting: Rubric mengurangi debat subjektif saat menentukan apakah prompt sudah bekerja.

Contoh: Rubric artikel bisa mengecek hook, struktur, klaim bersumber, contoh, dan CTA.

Yang sering keliru: Menilai prompt hanya dari satu output yang kebetulan bagus.

02Prompt debugging loop

Debugging prompt dilakukan dengan membaca output, menemukan penyebab gagal, mengubah instruksi kecil, lalu menguji ulang.

Kenapa penting: Perubahan kecil yang terukur lebih mudah dipahami daripada menulis ulang seluruh prompt setiap kali.

Contoh: Jika output terlalu panjang, ubah batas panjang dan format sebelum mengubah tone.

Yang sering keliru: Mengubah banyak bagian prompt sekaligus sehingga penyebab perbaikan tidak jelas.

03Prompt versioning

Prompt versioning menyimpan perubahan prompt, hasil uji, dan catatan kenapa perubahan dilakukan.

Kenapa penting: Versi membuat prompt library bisa dirawat oleh tim, bukan hanya tersimpan di chat pribadi.

Contoh: Simpan v1, v2, dan v3 dengan catatan input uji serta skor rubric.

Yang sering keliru: Menimpa prompt lama tanpa menyimpan hasil yang sudah terbukti.

Cara kerjanya

Prompt tidak selalu langsung berhasil. Skill pentingnya bukan membuat prompt sempurna sekali jalan, tapi tau cara mengevaluasi dan memperbaiki. Ketika output jelek, cari penyebab: task tidak jelas, konteks kurang, format tidak spesifik, contoh tidak ada, constraint bertabrakan, atau model yang dipakai tidak cocok.

Gunakan rubric untuk menilai output. Misalnya untuk artikel: akurasi, struktur, kedalaman, tone, contoh, actionable value, dan kebutuhan editing. Untuk customer support: akurasi kebijakan, empati, kejelasan, dan escalation. Untuk coding: correctness, security, maintainability, dan test coverage.

Simpan prompt yang berhasil sebagai template. Simpan juga contoh output yang bagus sebagai golden examples. Ini membuat workflow lebih konsisten.

Contoh nyata

Jika AI membuat artikel terlalu generik, prompt mungkin kurang audience dan contoh. Jika AI terlalu panjang, format dan batasan kurang jelas. Jika AI salah fakta, prompt perlu meminta verifikasi sumber atau membatasi jawaban pada dokumen yang diberikan.

Coba sendiri

  1. 1

    Jalankan satu prompt.

  2. 2

    Nilai output memakai rubric 1-5.

  3. 3

    Identifikasi 3 failure mode.

  4. 4

    Rewrite prompt dan jalankan ulang.

Prompt yang bisa dipakai

Audit output AI berikut berdasarkan rubric. Rubric: akurasi, relevansi, struktur, tone, detail, actionable value. Output: [tempel output]. Berikan skor 1-5, masalah utama, penyebab kemungkinan, dan versi prompt yang lebih baik.

Cek pemahaman

Jawab dengan bahasa sendiri. Kalau masih muter-muter, baca ulang bagian yang paling nyangkut.

  1. 1

    Apa itu failure mode?

  2. 2

    Kenapa rubric penting?

  3. 3

    Apa fungsi golden examples?

Tugas

Buat prompt evaluation sheet untuk satu use case yang ingin kamu jual sebagai service.

Lanjut ke materi berikutnya

Setelah prompt bisa diuji, lanjut ke penggunaan AI untuk riset agar kamu bisa menilai sumber dan bukti dengan lebih disiplin.
Lanjut ke AI buat Kerja Sehari-hari