Portfolio & Capstone
Lesson 1 dari 1 · Lanjutan · 45 sampai 60 menit

Portfolio dan case study yang bisa dijual

Portfolio AI yang kuat menunjukkan masalah, proses, tools, output, batasan, dan bukti. Materi ini mengubah project menjadi case study yang bisa dibaca calon klien atau recruiter.

Setelah selesai, kamu bisaLesson 1 dari 1
  • Menulis struktur case study
  • Menunjukkan before-after
  • Menentukan bukti yang bisa ditampilkan

Sebelum mulai

  • Punya satu project AI atau demo yang sudah dibuat.
  • Siapkan screenshot, output, atau catatan proses.
Target belajar: Setelah selesai, kamu bisa menulis case study singkat yang menjelaskan before-after, deliverable, metric, dan proof of work.

Konsep utama

01Struktur case study

Case study menjelaskan problem, baseline, proses, tools, output, hasil, batasan, dan next improvement.

Kenapa penting: Pembaca perlu melihat cara berpikirmu, bukan hanya screenshot hasil akhir.

Contoh: Case study content system menampilkan input artikel, workflow repurpose, output multi-format, dan waktu produksi.

Yang sering keliru: Menulis portfolio seperti daftar tools yang pernah dipakai.

02Before-after dan metric

Before-after menunjukkan kondisi awal dan perubahan setelah project. Metric memberi ukuran yang bisa dibandingkan.

Kenapa penting: Bukti konkret membuat klaim lebih dipercaya.

Contoh: Waktu membuat laporan turun dari 4 jam menjadi 70 menit, dengan checklist review yang sama.

Yang sering keliru: Memakai angka tanpa menjelaskan cara mengukurnya.

03Demo dan proof

Demo bisa berupa link, screenshot, video Loom, dataset contoh, atau output yang bisa diuji.

Kenapa penting: Portfolio AI perlu menunjukkan bahwa hasilnya benar-benar bisa dipakai.

Contoh: Untuk RAG chatbot, tampilkan pertanyaan uji, jawaban, citation, dan kasus gagal.

Yang sering keliru: Menyembunyikan batasan sehingga project terlihat lebih matang daripada aslinya.

Cara kerjanya

Portfolio AI jangan cuma berisi “saya bisa pakai ChatGPT”. Tunjukkan problem nyata, proses yang dipakai, tools, workflow, output, metric, dan pelajaran. Format case study: problem -> baseline -> solution -> workflow -> result -> screenshot/demo -> next improvement.

Untuk jasa, portfolio lebih penting daripada sertifikat. Client ingin melihat apakah kamu bisa menyelesaikan masalah mereka. Buat 3-5 case study fiktif tapi realistis jika belum punya client. Jelaskan bahwa itu demo project.

Case study yang bagus bisa dipakai untuk landing page service, pitch deck, thread X, proposal client, dan halaman portfolio.

Contoh nyata

Case study “Dari 1 artikel jadi 12 konten”: input artikel 1500 kata, workflow repurpose, output 5 post X, 3 carousel, 2 video script, 1 newsletter, 1 infographic. Metric: waktu produksi turun dari 6 jam ke 90 menit.

Coba sendiri

  1. 1

    Pilih satu project.

  2. 2

    Tulis problem dan baseline.

  3. 3

    Dokumentasikan workflow.

  4. 4

    Buat before-after.

  5. 5

    Tulis case study 1 halaman.

Prompt yang bisa dipakai

Bantu ubah project AI saya menjadi case study. Project: [project]. Isi: problem, target user, process, tools, workflow, deliverables, before-after, metric, screenshot yang perlu disiapkan, dan pitch singkat.

Cek pemahaman

Jawab dengan bahasa sendiri. Kalau masih muter-muter, baca ulang bagian yang paling nyangkut.

  1. 1

    Apa struktur case study yang bagus?

  2. 2

    Kenapa before-after penting?

  3. 3

    Apa beda portfolio dan sertifikat?

Tugas

Buat 1 case study lengkap dan 1 versi pendek untuk X/LinkedIn.

Lanjut ke materi berikutnya

Setelah case study selesai, pilih satu project capstone untuk dirapikan menjadi bukti utama di portfolio kamu.
Kembali ke course