Agent orchestration dan multi-agent system
Orchestration mengatur alur agent, tools, state, handoff, dan evaluasi. Multi-agent dipakai hanya saat satu agent tidak cukup atau peran perlu dipisah.
- Membedakan router, supervisor, dan handoff
- Menentukan kapan perlu multi-agent
- Menjaga state dan quality gate
Sebelum mulai
- Paham anatomi agent dan tool calling.
- Punya contoh workflow yang melibatkan beberapa peran.
Konsep utama
01Router dan supervisor
Router memilih jalur atau agent yang tepat. Supervisor mengawasi proses, memeriksa hasil, dan menentukan langkah berikutnya.
Kenapa penting: Pola ini membantu workflow kompleks tetap terkendali.
Contoh: Router mengirim pertanyaan teknis ke agent developer dan pertanyaan billing ke agent support.
Yang sering keliru: Membuat banyak agent padahal aturan routing sederhana sudah cukup.
02Handoff
Handoff adalah perpindahan tugas dari satu agent atau manusia ke pihak lain dengan konteks yang jelas.
Kenapa penting: Tanpa handoff yang rapi, informasi hilang dan output berikutnya melemah.
Contoh: Researcher agent menyerahkan source sheet dan caveat ke writer agent.
Yang sering keliru: Handoff hanya berupa hasil akhir tanpa alasan dan sumber.
03Quality gate
Quality gate adalah titik pemeriksaan sebelum workflow lanjut ke tahap berikutnya.
Kenapa penting: Multi-agent bisa mempercepat kerja, tetapi juga memperbanyak titik gagal.
Contoh: Fact-checker harus menyetujui claim sheet sebelum writer membuat thread.
Yang sering keliru: Menganggap agent evaluator otomatis cukup tanpa rubric.
Cara kerjanya
Agent orchestration adalah cara mengatur beberapa langkah, tools, atau agent agar bekerja bersama. Dalam multi-agent system, task bisa dibagi ke agent spesialis: researcher, writer, editor, evaluator, atau support specialist. Framework seperti LangGraph memodelkan workflow agent sebagai graph/stateful flow, berguna untuk proses panjang dan bercabang.
Namun multi-agent tidak selalu perlu. Untuk task prosedural sederhana, satu prompt panjang dengan context yang bagus kadang lebih efektif daripada sistem multi-agent yang rumit. Prinsipnya: mulai sederhana. Naik ke orchestration jika task butuh state, banyak tools, routing, approval, evaluasi, atau kolaborasi antar spesialis.
Pola umum: router menentukan jenis request, planner membuat rencana, specialist agent menjalankan subtask, evaluator mengecek kualitas, human reviewer menyetujui, lalu final response/action dikirim.
Contoh nyata
Coba sendiri
- 1
Ambil workflow kompleks.
- 2
Tentukan apakah cukup satu agent atau perlu multi-agent.
- 3
Jika multi-agent, tulis role tiap agent dan alur handoff.
Prompt yang bisa dipakai
Cek pemahaman
Jawab dengan bahasa sendiri. Kalau masih muter-muter, baca ulang bagian yang paling nyangkut.
- 1
Apa itu orchestration?
- 2
Kapan multi-agent overkill?
- 3
Apa fungsi evaluator agent?