Dari Prompt ke Workflow
M07.L01 · Menengah · 35-45 menit

Dari prompt ke workflow

Kita bongkar dari prompt ke workflow: konsep dasarnya, contoh nyatanya, lalu langsung coba.

KALAU LESSON INI BERES1/3
  • Paham workflow
  • Paham input-process-output
  • Paham reusable template

Sebelum mulai

  • Baca ringkasan modul dan siapkan satu contoh pekerjaan nyata.
  • Selesaikan modul sebelumnya atau pahami konsep dasarnya dulu.
Target belajar: Setelah lesson ini, kamu bisa menjelaskan dari prompt ke workflow, menerapkannya pada contoh Indonesia yang sederhana, dan tahu bagian mana yang harus dicek manusia.

Yang perlu kamu tangkap

01Workflow

Workflow perlu dipahami sebagai bagian dari input, process, output. Prompt adalah instruksi tunggal. Workflow adalah rangkaian langkah untuk menyelesaikan masalah. Contoh: “buat caption” adalah prompt. “Riset trend -> buat angle -> pilih hook -> draft -> edit -> visual -> publish -> analisis” adalah workflow.

Kenapa penting: Ini penting karena lesson M07.L01 bukan cuma mengejar istilah. Kamu perlu tahu kapan workflow membantu kerja nyata, kapan harus diverifikasi, dan batas apa yang tetap perlu dijaga manusia.

Contoh: Workflow riset mingguan: kumpulkan 10 artikel -> ekstrak klaim -> kelompokkan topik -> buat insight -> tulis report -> ubah jadi 5 konten -> simpan ke database.

Kesalahan pemula: Kesalahan umum: menganggap workflow otomatis membuat hasil benar tanpa contoh, sumber, atau checklist evaluasi.

02Input-process-output

Input-process-output perlu dipahami sebagai bagian dari branching dan state. Workflow yang bagus punya input yang jelas, proses berurutan, output yang terdefinisi, standar kualitas, dan feedback loop. Ini membuat AI berguna secara konsisten. Untuk bisnis, workflow juga bisa dijadikan SOP dan dijual sebagai service.

Kenapa penting: Ini penting karena lesson M07.L01 bukan cuma mengejar istilah. Kamu perlu tahu kapan input-process-output membantu kerja nyata, kapan harus diverifikasi, dan batas apa yang tetap perlu dijaga manusia.

Contoh: Workflow riset mingguan: kumpulkan 10 artikel -> ekstrak klaim -> kelompokkan topik -> buat insight -> tulis report -> ubah jadi 5 konten -> simpan ke database.

Kesalahan pemula: Kesalahan umum: menganggap input-process-output otomatis membuat hasil benar tanpa contoh, sumber, atau checklist evaluasi.

03Reusable template

Reusable template perlu dipahami sebagai bagian dari fallback. Peserta harus belajar memetakan pekerjaan menjadi komponen: trigger, input, transformasi, keputusan, output, review, dan archive.

Kenapa penting: Ini penting karena lesson M07.L01 bukan cuma mengejar istilah. Kamu perlu tahu kapan reusable template membantu kerja nyata, kapan harus diverifikasi, dan batas apa yang tetap perlu dijaga manusia.

Contoh: Workflow riset mingguan: kumpulkan 10 artikel -> ekstrak klaim -> kelompokkan topik -> buat insight -> tulis report -> ubah jadi 5 konten -> simpan ke database.

Kesalahan pemula: Kesalahan umum: menganggap reusable template otomatis membuat hasil benar tanpa contoh, sumber, atau checklist evaluasi.

04Quality control

Quality control perlu dipahami sebagai bagian dari logging dan human approval. Prompt adalah instruksi tunggal. Workflow adalah rangkaian langkah untuk menyelesaikan masalah. Contoh: “buat caption” adalah prompt. “Riset trend -> buat angle -> pilih hook -> draft -> edit -> visual -> publish -> analisis” adalah workflow.

Kenapa penting: Ini penting karena lesson M07.L01 bukan cuma mengejar istilah. Kamu perlu tahu kapan quality control membantu kerja nyata, kapan harus diverifikasi, dan batas apa yang tetap perlu dijaga manusia.

Contoh: Workflow riset mingguan: kumpulkan 10 artikel -> ekstrak klaim -> kelompokkan topik -> buat insight -> tulis report -> ubah jadi 5 konten -> simpan ke database.

Kesalahan pemula: Kesalahan umum: menganggap quality control otomatis membuat hasil benar tanpa contoh, sumber, atau checklist evaluasi.

05Feedback loop

Feedback loop perlu dipahami sebagai bagian dari Feedback loop. Workflow yang bagus punya input yang jelas, proses berurutan, output yang terdefinisi, standar kualitas, dan feedback loop. Ini membuat AI berguna secara konsisten. Untuk bisnis, workflow juga bisa dijadikan SOP dan dijual sebagai service.

Kenapa penting: Ini penting karena lesson M07.L01 bukan cuma mengejar istilah. Kamu perlu tahu kapan feedback loop membantu kerja nyata, kapan harus diverifikasi, dan batas apa yang tetap perlu dijaga manusia.

Contoh: Workflow riset mingguan: kumpulkan 10 artikel -> ekstrak klaim -> kelompokkan topik -> buat insight -> tulis report -> ubah jadi 5 konten -> simpan ke database.

Kesalahan pemula: Kesalahan umum: menganggap feedback loop otomatis membuat hasil benar tanpa contoh, sumber, atau checklist evaluasi.

06SOP

SOP perlu dipahami sebagai bagian dari SOP. Peserta harus belajar memetakan pekerjaan menjadi komponen: trigger, input, transformasi, keputusan, output, review, dan archive.

Kenapa penting: Ini penting karena lesson M07.L01 bukan cuma mengejar istilah. Kamu perlu tahu kapan sop membantu kerja nyata, kapan harus diverifikasi, dan batas apa yang tetap perlu dijaga manusia.

Contoh: Workflow riset mingguan: kumpulkan 10 artikel -> ekstrak klaim -> kelompokkan topik -> buat insight -> tulis report -> ubah jadi 5 konten -> simpan ke database.

Kesalahan pemula: Kesalahan umum: menganggap sop otomatis membuat hasil benar tanpa contoh, sumber, atau checklist evaluasi.

Oke, sekarang kita bongkar

Prompt adalah instruksi tunggal. Workflow adalah rangkaian langkah untuk menyelesaikan masalah. Contoh: “buat caption” adalah prompt. “Riset trend -> buat angle -> pilih hook -> draft -> edit -> visual -> publish -> analisis” adalah workflow.

Workflow yang bagus punya input yang jelas, proses berurutan, output yang terdefinisi, standar kualitas, dan feedback loop. Ini membuat AI berguna secara konsisten. Untuk bisnis, workflow juga bisa dijadikan SOP dan dijual sebagai service.

Peserta harus belajar memetakan pekerjaan menjadi komponen: trigger, input, transformasi, keputusan, output, review, dan archive.

Contoh biar kebayang

Workflow riset mingguan: kumpulkan 10 artikel -> ekstrak klaim -> kelompokkan topik -> buat insight -> tulis report -> ubah jadi 5 konten -> simpan ke database.

Coba praktik

  • Pilih satu pekerjaan repetitif.
  • Pecah menjadi step.
  • Tentukan input/output setiap step.
  • Tandai step yang bisa dibantu AI.

Prompt yang bisa kamu coba

Ubah pekerjaan berikut menjadi AI workflow. Pekerjaan: [deskripsi]. Output: trigger, input, step-by-step, prompt tiap step, tool yang dipakai, human review, final deliverable, dan cara mengukur kualitas.

Beneran paham, atau cuma terasa familiar?

Jawab pakai bahasamu sendiri. Kalau masih muter-muter, bagian atasnya perlu dibaca sekali lagi.

  1. 1

    Apa beda prompt dan workflow?

  2. 2

    Apa fungsi feedback loop?

  3. 3

    Sebutkan komponen workflow yang bagus.

Bikin sesuatu dari lesson ini

Buat 1 SOP AI workflow yang bisa dipakai orang lain tanpa penjelasan tambahan.

Catatan dan batasan

  • Workflow library harus memakai format recipe.
  • Checklist tambahan: input, process, output.
  • Checklist tambahan: branching dan state.
  • Checklist tambahan: fallback.
  • Checklist tambahan: logging dan human approval.

Langkah berikutnya

Simpan hasil latihan, cek kembali dengan rubric sederhana, lalu lanjut ke lesson berikutnya saat output sudah bisa dijelaskan ulang.
Personal AI OS: knowledge, prompt, tools, dan review