Dari Prompt ke Workflow
Lesson 1 dari 3 · Menengah · 35 sampai 45 menit

Dari prompt ke workflow

Prompt sekali pakai mudah hilang. Workflow membuat pekerjaan AI menjadi proses berulang dengan input, langkah, review, output, dan catatan evaluasi.

Setelah selesai, kamu bisaLesson 1 dari 3
  • Membedakan prompt dan workflow
  • Memetakan input, process, output
  • Menambahkan review dan fallback

Sebelum mulai

  • Punya satu prompt yang sering dipakai berulang.
  • Tahu output akhir yang ingin disimpan.
Target belajar: Setelah selesai, kamu bisa mengubah prompt menjadi workflow sederhana yang bisa diulang.

Konsep utama

01Input, proses, output

Input adalah bahan yang masuk, proses adalah langkah yang dilakukan, dan output adalah hasil yang disimpan atau dikirim.

Kenapa penting: Struktur ini membuat pekerjaan AI lebih mudah diaudit dan diperbaiki.

Contoh: Workflow ringkasan meeting memakai transkrip sebagai input, ekstraksi keputusan sebagai proses, dan action tracker sebagai output.

Yang sering keliru: Menulis prompt bagus tetapi tidak menentukan bentuk hasil akhir.

02Review point

Review point adalah titik pemeriksaan sebelum hasil dipakai, diterbitkan, atau memicu tindakan lain.

Kenapa penting: Review mencegah output keliru masuk ke tahap berikutnya.

Contoh: Draft konten harus dicek klaim dan tone sebelum masuk desain.

Yang sering keliru: Menaruh review setelah output sudah dikirim.

03Fallback

Fallback adalah langkah cadangan saat tool gagal, data kurang, atau confidence rendah.

Kenapa penting: Workflow nyata harus siap menghadapi input buruk dan error.

Contoh: Jika AI tidak yakin mengklasifikasi ticket, kirim ke manusia dengan ringkasan alasan.

Yang sering keliru: Menganggap semua input akan rapi.

Cara kerjanya

Prompt adalah instruksi tunggal. Workflow adalah rangkaian langkah untuk menyelesaikan masalah. Contoh: “buat caption” adalah prompt. “Riset trend -> buat angle -> pilih hook -> draft -> edit -> visual -> publish -> analisis” adalah workflow.

Workflow yang bagus punya input yang jelas, proses berurutan, output yang terdefinisi, standar kualitas, dan feedback loop. Ini membuat AI berguna secara konsisten. Untuk bisnis, workflow juga bisa dijadikan SOP dan dijual sebagai service.

Peserta harus belajar memetakan pekerjaan menjadi komponen: trigger, input, transformasi, keputusan, output, review, dan archive.

Contoh nyata

Workflow riset mingguan: kumpulkan 10 artikel -> ekstrak klaim -> kelompokkan topik -> buat insight -> tulis report -> ubah jadi 5 konten -> simpan ke database.

Coba sendiri

  1. 1

    Pilih satu pekerjaan repetitif.

  2. 2

    Pecah menjadi step.

  3. 3

    Tentukan input/output setiap step.

  4. 4

    Tandai step yang bisa dibantu AI.

Prompt yang bisa dipakai

Ubah pekerjaan berikut menjadi AI workflow. Pekerjaan: [deskripsi]. Output: trigger, input, step-by-step, prompt tiap step, tool yang dipakai, human review, final deliverable, dan cara mengukur kualitas.

Cek pemahaman

Jawab dengan bahasa sendiri. Kalau masih muter-muter, baca ulang bagian yang paling nyangkut.

  1. 1

    Apa beda prompt dan workflow?

  2. 2

    Apa fungsi feedback loop?

  3. 3

    Sebutkan komponen workflow yang bagus.

Tugas

Buat 1 SOP AI workflow yang bisa dipakai orang lain tanpa penjelasan tambahan.

Lanjut ke materi berikutnya

Setelah workflow dasar, lanjut ke Personal AI OS agar prompt, knowledge, tools, dan review tersimpan sebagai sistem pribadi.
Lanjut: Personal AI OS: knowledge, prompt, tools, dan review